Selasa, 13 September 2016

Tokoh Idola



K.H. AHMAD DAHLAN 
karya : Ro'if Mamluk'atul

  
            K.H. Ahmad Dahlan adalah putra keempat dari tujuh bersaudara. Beliau adalah putra dari K.H. Abu Bakar bin Kyai Sulaiman dan Siti Aminah binti K.H. Ibrahim. Ayahnya seorang khatib di Masjid Agung Yogyakarta. K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1869. Beliau diberi nama oleh orang tuanya Muhammad Darwis. Setelah beliau selesai menunaikan ibadah haji, ia diberi nama K.H. Ahmad Dahlan oleh para Kyai.
          K.H. Ahmad Dahlan adalah salah satu tokoh pendiri Muhammadiyah. Perjuangan beliau sangat besar, untuk mengajari para pemuda dan pemudi islam dalam menjunjung tinggi agama islam. Pada saat beliau mendirikan sekolah, orang Belanda pun tidak senang. K.H. Ahmad Dahlan menikah dengan Siti Walidah, beliau seorang istri yang sangat cantik dan sabar. Saat itu K.H. Ahmad Dahlan menentukan arah kiblat yang benar, yang  menghadap ke barat agak condong ke utara. Namun para tokoh ulama – ulama pun tidak setuju, dan beliau berdebat dengan para ulama – ulama tersebut. Pada saat malam hari, para ulama pun memberi tahu pada semua warga bahwa K.H. Ahmad Dahlan adalah orang kafir. Dan semua warga pun percaya dengan bujukan mereka , lalu musholla yang dirubah arah kiblatnya pun dibakar dan dirobohkan oleh semua warga.

* Hal yang dapat saya teladani dari tokoh K.H. Ahmad Dahlan adalah beliau orang yang sangat gigih dalam membela agama Islam dan mengajarkan seluruh umat nya agar kembali kejalan yang benar dan di ridhoi oleh Allah SWT. Dan kita sebagai umat Islam dapat mencontoh Perilaku beliau dalam memperjuangkan agama islam. 


Kamis, 08 September 2016

PUISI




IBU 
Karya : Ro'if Mamluk'atul
 
 
Ibu . . .
Sembilan purnama kau mengandungku
Kau menaruhkan nyawamu antara hidup dan mati
Agar buah hatimu bisa terlahir didunia ini
Tanpa rasa mengeluh, lelah, letih kau membesarkan buah hatimu . . .
Dan merawat buah hatimu dengan penuh kasih sayang . . .
Diwaktu buah hatimu menangis kau selalu mendekapnya
                        Ibu . . .
                        Sungguh besar jasamu bagiku
                        Aku tak dapat bisa membalasjasa mu
                        Walaupun dengan emas permata
                        Walau dengan gulungan uang
Ibu . . .
Tanpamu ku bagaikan rumah tanpa berpenghuni
Tanpa perjuanganmu ku tak dapat seperti sekarang ini
Dengan linangan air mata mu
Kau mengharapkan agar buah hatimu dapat mencapai kesuksesan
Kau bagaikan sang surya yang menyinari dunia
                        Ibu . . .
                        Terima kasih atas jasa - jasamu bagiku . . .
                        Aku sangat menyayangimu  . . .



CERPEN



PISTOL MAINAN
            Disuatu desa ada anak – anak kecil yang sedang bersekolah diantaranya lisa, lina, lila, dan lita. Lisa mendatangi ketiga temannya itu yaitu lila, lina, dan lita. Lisa berkata“ Aku mempunyai pistol mainan baru, apa kalian mau kuajak main perang – perangan setelah pulang sekolah “ ya kami mau. Kata mereka bersamaan, setelah pulang sekolah mereka bertemu di pinggir hutan. Mereka mencari tempat yang cocok untuk bermain“ kita bermain di sebelah gua itu saja “ kata lita. Mereka bermain disebelah gua yang berada agak ditengah hutan. Pada saat itu lita dan lila berperan sebagai polisi sedangkan lisa dan lina sebagai penjahat. Mereka bermain dengan serius, seperti layaknya sedang berperang. Ditengah permainan mereka melihat dua orang penjahat yang selesai merampok.“ berhenti ada penjahat” kata lita. Mereka berempat panik, kemudian lisa dan lita berusaha untuk melawan tetapi malah mereka yang diikat. Setelah itu dengan idenya, lina menyodongkan pistol mainan punya lisa. Penjahat itu mengira kalau itu bukan pistol mainan. Setelah itu penjahat yang mengikat ikatan tali pada lita dan lila berusaha melepaskan ikatan yang mengikat mereka, dan mereka berhasil melepaskannya. Lalu lita dan lila menghajar kedua penjahat itu dan mengikatnya. Setelah itu mereka lari dan melapor pada kepala desa, dan kemudian kepala desa melapor pada polisi lalu penjahat itu di tangkap. Setelah kejadian itu mereka berempat dipandang hebat oleh masyarakat desa.



PUISI



SUNGAI 
karya : Ro'if Mamluk'atul



Sungai . . .
Kudengar suara gemericik air yang mengalir
Membuat kedamaian di hati
Kilauan air yang kulihat
Membuat sejuk dijiwa
                        Sungai . . .
                        Sungguh bermanfaatnya engkau disini . . .
                        Betapa berartinya engkau bagi kami . . .
                        Untuk membantu kebutuhan kami setiap hari
Sungai . . .
Sangat banyak sekali fungsimu
Sebagai tempat nelayan mencari ikan
Dan sebagai tempat mengairi sawah
Yang terdapat disekitar mu . . .
Dan orang – orang sangat membutuhkan mu . . .